Senin, 08 April 2013

Person-Centered Therapy by Rodgers



Client-centered Therapy adalah sebuah metode terapi yang diperkenalkan oleh seorang tokoh yang bernama Carl Rogers yang merupakan pencipta pendekatan konseling dan terapi yang dimaksudkan untuk membantu klien memenuhi potensi unik mereka dan menjadi pribadinya sendiri. Pada awalnya terapi ini bernama Client-centered Therapy, tetapi mulai tahun 1974 Rogers dan rekan-rekan sejawatnya mengubah nama terapi ini menjadi Person Centered Therapy untuk lebih menekankan pada aspek manusiawi. Tetapi nama Client-centered Therapy masih digunakan terus dalam penjelasan-penjelasan Rogers, bergantian dengan istilahPerson-Centered Therapy. Person-Centered Therapy terutama digunakan untuk aktivitas -aktivitas di luar situasi terapi satu-lawan-satu. Pendekatan ini adalah upaya untuk melepaskan diri dari terapi psikodinamika dan usaha untuk mengemansipasi manusia dari dari pengaruh orangtua yang menguasai pikiran, perasaan, dan tindakan anak-anaknya.
Menurut Rogers, manusia pada dasarnya hidup di dunia pribadi dan subyektifnya. Pandangan pada perseptual subyektif klien inilah yang memunculkan istilah client-Centered, yang mana persepsi klien dianggap sebagai persepsinya mengenai realitas. Rogers menekankan bahwa satu-satunya realitas yang mungkin diketahui orang adalah dunia yang dipersepsinya dan dialaminya secara individual pada saat itu. Sementara ‘real world‘ adalah suatu realitas yang dapat disetujui semua orang.
Pada Client-centered Therapy, manusia dipandang secara positif sebagai makhluk yang berbudaya dan bergerak maju. Bahkan karena manusia adalah makhluk yang positif, manusia tidak perlu mengontrol impuls-impuls agresifnya, karena impuls-impuls agresif ini juga mengarah pada hal-hal yang positif. Misalkan; seorang kakak memarahi adiknya karena adiknya diyakini oleh sang kakak berbuat suatu kesalahan, sehingga kakak menegur untuk kebaikan diri adiknya. Contoh lain: Lembaga sensor film juga tidak diperlukan menurut pandangan ini karena manusia dapat menentukan sendiri yang positif dan baik untuk dirinya. Sebagai manusia yang positif dan bergerak maju, sebetulnya manusia memiliki kemampuan untuk menghindar dari gangguan kepribadian sehingga tanggung jawab dalam proses terapi terletak di tangan klien. Klien sebagai pribadi yang aktif mengetahui yang terbaik untuk dirinya. Akar Client-centered Therapy adalah kapasitas klien untuk menjadi waspada dan kemampuan untuk mengambil keputusan. Yang dimaksud waspada di sini adalah waspada terhadap dirinya sendiri maupun lingkungannya. Contohnya: klien waspada ketika ia mulai merasa bahwa dirinya marah terhadap pasangannya.
Yang menarik dari karakteristik Client-centered Therapy (lihat karakteristik dari ppt materi pertemuan 4) adalah adanya pandangan bahwa antara individu yang mengalami gangguan kepribadian dan yang tidak mengalami gangguan pada dasarnya tidak ada perbedaan. Yang berbeda antara individu yang terganggu dan tidak terganggu hanyalah kematangan psikologisnya. Dan satu lagi, Client-centered Therapy ini bukan merupakan sekumpulan teknik atau dogma, melainkan hanyalah merupakan cara untuk berbagi pengalaman hidup antara terapis dan klien. Dengan demikian tidak ada teknik khusus yang digunakan dalam pendekatan ini selain konsep-konsep dasar dan pandangan mengenai manusia yang perlu diperhatikan dalam memandang dunia fenomenal setiap individu.
Dalam kehidupan, manusia sering berpura-pura sebagai perlindungan terhadap ancaman. Ketika manusia berpura-pura itulah, manusia seperti memakai topeng dirinya. Dan manusia yang terlalu sering berpura-pura lama kelamaan akan menjadi terasing terhadap dirinya sendiri. Oleh sebab itu, manusia seringkali perlu bertanya“Who Am I?” untuk menyelaraskan antara dunia pribadinya yang ideal (ideal self) dan dunia kenyataan (real self), sehingga terbentuk kongruensi antara ideal selfdengan real self. Apabila jarak kongruensi antara ideal self dan real self terlalu jauh, manusia akan menjadi bingung antara yang terjadi dengan dirinya dan yang terjadi dengan dunia di sekitarnya. Kematangan psikologis akan terganggu oleh karena kewaspadaan diri yang kurang optimal. Misalkan: ada seorang pria yang ingin menjadi dokter (ideal self), tetapi ternyata nilai-nilainya di fakultas kedokteran selalu kurang, sehingga ia sering tidak lulus ujian (real self). Hal seperti ini perlu menjadi pertimbangan pria tersebut, apakah ideal self-nya sudah kongruen dengan real self-nya? Apabila kurang kongruen, perlu dicari penyebabnya, yang kemungkinan besar, terkait dengan kurangnya kewaspadaan diri mengenai bakatnya yang menonjol. Individu yang seperti inilah yang membutuhkan Client-centered Therapy. Client-centered Therapy bertujuan agar individu dapat berfungsi secara penuh. Jadi diharapkan dengan mengikuti Client-centered Therapy, pria tersebut dapat menemukan bakat yang lebih menonjol dalam dirinya dan mengembangkan diri dengan bakatnya tersebut, sehingga ia dapat berfungsi secara penuh.
Dalam Client-centered Therapy, diri terapis berfungsi sebagai instrumen perubahan pada diri klien, sehingga sikap terapis memiliki peranan besar terhadap keberhasilan terapi ini. Terapis Client-Centered   sebaiknya menciptakan suasana yang kondusif yang mampu memfasilitasi pertumbuhan diri klien selama terapi berlangsung. Dalam hal ini, sebaiknya terapis bersifat hangat dan terbuka, sehingga perlahan-lahan klien akan merasa nyaman dan dengan sendirinya akan bersikap terbuka terhadap terapis. Selain itu, terapis tidak bersikap direktif, melainkan menciptakan hubungan yang bersifat menolong dengan menjadi cermin untuk klien. Dan yang tak kalah penting, terapis dalam klien Client-centered Therapy harus menjadi pribadi yang nyata/ jujur dalam hubungannya dengan klien. Pribadi terapis yang mampu memberi perhatian yang tulus pada klien tanpa syarat (Unconditional positive regard) juga menjadi prasyarat penting dalam Client-centered Therapy di samping kemampuan terapis untuk berempati secara akurat untuk memahami dunia klien yang fenomenal. Namun demikian, sikap terapis ini harus diimbangi dengan pribadi klien dan sikap klien yang positif selama sesi terapi berlangsung, sehingga dapat terwujud perubahan yang signifikan dalam diri klien yang merupakan buah dari proses terapi.

Senin, 01 April 2013

Terapi Humanistik Eksistensial

Tokoh nya antara lain Carl Rogers. Terapi-terapi humanistik-eksistensial memusatkan pada pengalaman-pengalaman dasar. Tarapi ini juga memusatkan perhatian pada apa apa yang dialami pasien pada masa sekarang –“di sini dan kini”- dan bukan pada masa lampau. Tapi ada kesamaan antara terapi psikodinamik dengan terapi humanistic, yakni kedua-duanya menekankan bahwa peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi tingkah laku dan persaan-perasaan individu sekarang, dan kedua-duanya berusaha memperluas pemahaman diri dan kesadaran diri pasien.

- Kelebihan
1. Bersifat pembentukan kepribadian, hai nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena social
2. Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan antaupun masa transisisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa.

- Kekurangan
1. Pendekatan ini kurang sistematis pada prinsip-prinsip dan praktek terapi.
2. Beberapa penulis eksistensialisme menggunakan konsep abstrak atau global dan samar-samar. Sulit untuk dipegang.
3. Memiliki keterbatasan penerapan pada kasus level keberfungsian klien yang rendah, klien yang ekstrem yang membutuhkan penanganan secara langsung
4. Proses terapi membutuhkan waktu yang panjang dan ketidakpastian kapan berakhir, berapa jam dan berapa kali pertemuan.

- Tujuan terapi
Memiliki tujuan mengembalikan individu kepada pemikiran autentik tentang dirinya. Tanggung jawab personal terhadap diri, perasaan, perilaku, dan pilihan ditekankan. Individu didorong untuk hidup sepenuhnya pada masa kini dan memandang masa depan.

- Langkah-langkah dalam proses terapi
Karena pendekatan eksistensial tidak memiliki metodologi, maka sulit mengemukakan langkah-langkah terapeutik yang khas. Dengan tidak adanya metodologi, maka para terapis eksistensial sering mengambil metode dan prosedur dari pendekatan-pendekatan terapi lainnya, seperti metode dan prosedur dari terapi gestalt, analisis transaksional, dan psikoanalisis yang diidntegrasikan dalam pendekatan eksistensal. Metode dan prosedur yang digunakan mereka juga sangat bervariasi, tidak hanya dari pasien yang satu kepada pasien yang lain tetapi juga dari fase yang satu ke fase yang lain terhadap pasien yang sama.

Referensi:
1. Semiun, Yustinus (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius
2. Psikologi Konseling: Oleh Rizky Putri Asridha Sriemadingin, M.psi
3. Videbeck, Sheila. L (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Senin, 07 Januari 2013

AKULTURASI PSIKOLOGIS

Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengankebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Contoh akulturasi: Saat budaya rap dari negara asing digabungkan dengan bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa Jawa. Ini terjadi di acara Simfoni Semesta Raya.

Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan yang memelajari mengenai perilaku dan kognisimanusia. Menurut asal katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa) dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.


Jadi, jika disimpulkan, akulturasi psikologis adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan perilaku tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu perilaku asing. Perilaku asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam perilakunya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur periaku kelompok sendiri. Singkatnya terdapat perpaduan antara perilaku sendiri dengan perilaku asing, tanpa menghilangkan unsur perilaku kelompok sendiri.


Faktor-faktor yang mempengaruhi akulturasi
Terjadinya akulturasi adalah perubahan sosial budaya dan struktur sosial serta pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan.


Secara garis besar, ada dua faktor yang menyebabkan akulturasi dapat terjadi, yaitu:


Faktor Intern
·                     Bertambah dan berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi) 
·                     Adanya penemuan baru. Discovery --- penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada. Invention --- penyempurnaan penemuan baru. Innovation --- pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada. Penemuan baru didorong oleh kesadaran masyarakat akan kekurangan unsur dalam kehidupannya, kualitas ahli atau anggota masyarakat.
·                     Konflik yang terjadi dalam masyarakat.
·                     Pemberontakan atau revolusi.
 Faktor Ekstern 
·                     Perubahan alam
·                     Peperangan 
·                     Pengaruh kebudayaan lain melalui difusi (penyebaran kebudayaan), akulturasi (pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi (pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi).
Faktor-faktor yang memperkuat potensi akulturasi dalam taraf individu adalah faktor-faktor kepribadian seperti toleransi, kesamaan nilai, mau mengambil resiko, keluesan kognitif, keterbukaan dan sebagainya. Dua budaya yang mempunyai nilai-nilai yang sama akan lebih mudah mengalami akulturasi dibandingkan dengan budaya yang berbeda nilai. 

Jadi, akulturasi psikologis adalah proses sosial yang timbul pada psikologis seseorang atau kelompok, seperti saat seseorang mendiami suatu tempat dengan kebudayaan yang berbeda dari dirinya. Pola berpikir atau sifatnya sedikit demi sedikit berubah namun tidak seutuhnya menjadi seperti orang-orang yang asli dari tempat tersebut.



Sumber   :

http://www.psychologymania.com/2012/06/faktor-yang-mempengaruhi-akulturasi.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi

MULTIKULTURALISME

Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.

Pengertian multikulturalisme menurut beberapa ahli
·                     “Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007).
·                     Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (“A Multicultural society, then is one that includes several cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception of the world, system of [meaning, values, forms of social organizations, historis, customs and practices”; Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007).
·                     Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip Lubis, 2006:174).
·                     Sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Suparlan, 2002, merangkum Fay 2006, Jari dan Jary 1991, Watson 2000).
·                     Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho’ Muzhar).
Jenis Multikulturalisme == Berbagai== macam pengertian dan kecenderungan perkembangan konsep serta praktik multikulturalisme yang diungkapkan oleh para ahli, membuat seorang tokoh bernama Parekh (1997:183-185) membedakan lima macam multikulturalisme (Azra, 2007, meringkas uraian Parekh):
1.            Multikulturalisme isolasionis, mengacu pada masyarakat dimana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.
2.            Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan meraka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di beberapa negara Eropa.
3.            Multikulturalisme otonomis, masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kutural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Perhatian pokok-pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra sejajar.
4.            Multikulturalisme kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (concern) dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka.
5.            Multikulturalisme kosmopolitan, berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing.

Sumber   :

http://id.wikipedia.org/wiki/Multikulturalisme

Senin, 05 November 2012

Tema 3: Akulturasi dan Relasi Internakultural

World Acculturation
Pengertian Akulturasi 


Adanya perbedaan beberapa aspek dalam kehidupan kelompok-kelompok masyarakat, dewasa ini masyarakat pun mulai mampu menjadikan perbedaan dipandang dari sisi positif sebagai bentuk gambaran bahwa keragaman budaya adalah kekayaan bangsa. Kemudian kelompok-kelompok masyarakat mulai juga telah memahami istilah akulturasi. Pada umumnya, akulturasi diartikan sebagai percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi. suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.

Sebagai contoh, masyarakat pendatang berkomunikasi dengan masyarakat setempat dalam acara syukuran, secara tidak langsung masyarakat pendatang berkomunikasi berdasarkan kebudayaan tertentu milik mereka untuk menjalin kerja sama atau mempengaruhi kebudayaan setempat tanpa menghilangkan kebudayaan setempat.



Pengertian Akulturasi menurut para ahli

1. Harsoyo

Akulturasi adalah fenomena yang timbul sebagai hasil jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara langsung dan terus-menerus; yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya.

2. Koentjaraningrat

Akulturasi adalah proses sosial yang terjadi apabila kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan pada kebudayaan asing yang berbeda, sehingga unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah di dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri.

3. Lauer (1989: 402-407)

Akulturasi dapat digambarkan sebagai pola penyatuan antara dua kebudayaan, penyatuan antara dua kebudayaan, penyatuan disini tidak berarti bahwa kesamaannya lebih banyak dari pada perbedaannya, namun berarti kedua kebudayaan yang saling berinteraksi menjadi semakin serupa dibanding sebelum terjadinya kontak antar keduanya.

4. Sumandiyo Hadi (2006: 35)

Akulturasi dan inkulturasi merupakan dua hal yang berkaitan satu sama lain. Akulturasi sebagai perubahan budaya ditandai dengan adanya hubungan antara dua kebudayaan, keduanya saling memberi dan menerima atau shoter. Sumandiyo Hadi juga mengatakan bahwa akulturasi adalah the encounter between two cultures (pertemuan antara dua kebudayaan).

5. Bee dalam Hadi (2006: 35)

Akulturasi yakni (Pertama, akulturasi menunjuk kepada suatu jenis perubahan budaya yang terjadi apabila dua sistem budaya bertemu. Kedua, akulturasi menunjuk kepada suatu proses perubahan yang dibedakan dari proses difusi, inovasi, invensi maupun penemuan. Ketiga, akulturasi dipahami sebagai suatu konsep yang dapat digunakan sebagai kata sifat untuk menunjuk suatu kondisi, misalnya kondisi kelompok budaya yang satu lebih terakulturasi dari budaya lain).

6. Kroeber (1948: 425)

Akulturasi terdiri dari berbagai perubahan-perubahan dalam kebudayaan, dimana perubahan terjadi akibat bertemunya dua kebudayaan yang menyebabkan meningkatnya persamaan antara dua budaya.

7. Murdock et.al, (1965:12)

Akulturasi adalah modifikasi adaptif dari berbagai elemen.



Relasi Internakultural 

Heidi Kulm and Seal, mereka sudah menikah dan punya anak 2. Huft Banged






















Relasi Internakultural adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Menurut Stewart L. Tubbs, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras,etnis, atau perbedaan-perbedaan sosio ekonomi).Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.

Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.




Teori psikologi

. John B Watson (1878-1958)

Menurut John Watson, perilaku yang terbentuk merupakan hasil suatu pengondisian. Hubungan berantai sederhana antara stimulus dan respon yang membentuk rangkaian kompleks perilaku. Rangkaian kompleks perilaku meliputi; pemikiran, motivasi, kepribadian, emosi dan pembelajaran.
Opa Watson

       Jadi, akulturasi dan relasi internakultural saling mempengaruhi karena dengan akulturasi seseorang dapat mengetahui kebudayaan asing yang ada sedangkan relasi internakultural merupakan komunikasi antar budaya yang hidup didalam nya masyarakat yang berbeda ras,suku,etnis dll. Yang menjadikan budaya semakin beragam adalah karena manusia hidup dengan diturunkannya warisan budaya dari generasi terdahulu sampai generasi selanjutnya. Dari teori psikologi sendiri hal kebudayaan berpengaruh melalui suatu proses pengkondisan dalam hal ini akulturasi dan relasi internakultural terjadi melalui proses pengkondisian yang terjadi dengan adanya stimulus dan respon yang merangkai menjadi suatu kompleks perilaku. Dengan akulturasi seseorang belajar untuk mengkondisikan bagaimana pengaruh asing mempengaruhi kebudayaan pribumi dan relasi internakultural terjadi dengan adanya pengkondisian komunikasi antar budaya yang membuat manusia saling berinterkasi dengan budaya yang bermacam-macam di dunia ini.

Jumat, 02 November 2012

Mitch Lucker Dead: Suicide Silence Frontman Killed In Motorcycle Crash

Suicide Silence frontman Mitch Lucker died Thursday morning after succumbing to injuries from a motorcycle collision on Halloween night.

The 28-year-old musician lost control of his motorcycle and crashed into a light pole in Huntington Beach at around 8:55 p.m., said police to Newport Beach Patch. The collision threw him from the bike, and the motorcycle kept sliding down the street until it struck a pickup truck. Lucker was taken to UCI Medical Center, where he died the next morning at 6:17 a.m.No one else was injured, and police are investigating to see if alcohol played a role in the crash, reports the Riverside Press-Enterprise. Members of the band announced Lucker's death on Facebook and invited fans and supporters to a candlelit vigil in memory of Lucker at 8 p.m. on Huntington Beach Thursday. From the band's Facebook page:
"There's no easy way to say this. Mitch passed away earlier this morning from injuries sustained during a motorcycle accident. This is completely devastating to all of us and we offer our deepest condolences to his family. He will be forever in our hearts."

R.I.P. Mitchell Adam Lucker - We Love You Brother

Suicide Silence is a heavy metal band that has been around for ten years. The group toured on the Mayhem Festival in 2008 and 2011, according to the Riverside Press-Enterprise, and was slated to perform at the California Metalfest VI in San Bernardino on Nov. 24. Lucker leaves behind wife Jolie Lucker and a 5-year-old daughter named Kenadee. She is pictured in the slideshow below, in the arms of her father while on stage.

Senin, 15 Oktober 2012

TEMA 2: TRANSMISI BUDAYA DAN BIOLOGIS

Transmisi budaya merupakan kegiatan pengiriman atau penyebaran pesan dari generasi yang satu ke generasi yang lain tentang sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sulit diubah. Transmisi budaya adalah cara sekelompok orang atau hewan dalam suatu masyarakat atau budaya cenderung untuk belajar dan menyampaikan informasi baru.Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. mewariskan budaya dari generasi yang satu ke generasi yang lain melalui sebuah kegiatan pengiriman atau penyebaran sebuah kebiasaan/adat istiadat yang sulit untuk diubah disebut dengan transmisi budaya.Pewarisan budaya belajar dapat disamakan dengan istilah Transmisi kebudayaan. Yakni suatu usaha untuk menyampaikan sejumlah pengetahuan atau pengalaman untuk dijadikan sebagai pegangan dalam meneruskan estafet kebudayaan. Dalam hal ini tidak ada suatu masyarakat yang tidak melakukan usaha pewarisan budaya. Usaha pewarisan ini bukan sekedar menyampaikan atau memberikan suatu yang material, melainkan yang terpenting adalah menyampaikan nilai-nilai yang dianggap terbaik yang telah menjadi pedoman yang baku dalam masyarakat.

Contoh transmisi budaya : Budaya indis yang berkembang subur pada abad ke-18 sampai abad ke-19, dan berpusat di wilayah-wilayah tanah partikelir dan di lingkungan Indische landhuizen. Pada permulaan abad ke-20 kebudayaan ini bergeser ke arah urban life seiring dengan hilangnya pusat-pusat kehidupan tersebut.
Pergeseran Budaya Indis menjadi Urban Life menjadi  transmisi budaya yang nyata dalam kehidupan masyarakat zaman dulu. Ada seuatu perubahan kebudayaan dari Indis menjadi kota (urban).



Bentuk Transmisi Budaya
  • Enkulturasi
Enkulturasi adalah proses penerusan kebudayaan dari generasi yang satu kepada generasi berikutnya selama hidup seseorang individu di mulai dari institusi keluarga terutama tokoh ibu. Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur (budaya) ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
  • Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.
Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain. Misalnya, bila sekelompok imigran kemudian berdiam di Amerika Serikat (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri akan dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini. Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari kultur tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan rumah pun ikut berubah.
  • Sosialisasi
Sosisalisasi adalah proses pemasyarakatan, yaitu seluruh proses apabila seorang individu dari masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu-individu lain dalam masyarakat. Menurut Soerjono Soekanto, sosialisasi adalah suatu proses di mana anggota masyarakat baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di mana ia menjadi anggota masyarakat.


Pengaruh Terhadap Perkembangan Psikologi Individu
  • Pengaruh Sosialisasi terhadap perkembangan psikologi individu
Beberapa teori perkembangan manusia telah mengungkapkan bahwa manusia telah tumbuh dan berkembang dari masa bayi ke masa dewasa melalui beberapa langkah jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangnya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang yang secara aktif melakukan proses sosialisasi.
  • Pengaruh Akulturasi terhadap perkembangan psikologi individu
Akulturasi mempengaruhi perkembangan psikologi individu melalui suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Akulturasi terjadi karena sekelompok orang yang berangsur-angsur mengikuti cara atau peraturan di dalam lingkup yang menjadi tempat tinggalnya sekarang . Contoh : bali kaya akan budaya sehingga banyak menarik minat para touris untuk berkunjung ke bali dan bahkan sampai banyak touris yang menikah dengan orang bali, maka mau tidak mau ketika acara pernikahanya orang touris tersebut harus mengikuti adat bali untuk menghargai tradisi bali.

Awal Perkembangan dan Pengasuhan
Transmisi budaya dapat terjadi tergantung dari awal perkembangan dan pengasuhan yang terjadi pada masing-masing  individu orangtua. Dimana proses seperti Enkulturasi ataupun Akulturasi yang mempengaruhi perkembangan psikologis individu tergantung bagaimana individu mendapat pengasuhan seperti kasus anak yang ibunya bekerja maka dengan terpaksa anak tersebut di asuh oleh pembantu rumah tangga atau baby sister sehingga secara otomatis anak tersebut akan lebih dekat dengan pembantu rumah tangga atau baby sister dikarenakan yang anak lihat sehari-hari itu pembantu rumah tangga atau baby sister.
Maka jangan kaget anak jika tiba- tiba anak bertingkah aneh atau berkata – kata asing pada orangtuannya itu dikarenakan mungkin karena mereka menirukan gaya bahasa atau tingkah laku yang di gunakan oleh pembantu rumah tangga atau baby sister itu selama mengasuh si anak itu dan bagaimana lingkungan yang diterimanya. Dengan demikian dalam hidup dan kehidupannya manusia selalu mengadakan kontak dengan manusia lain. Karena itu manusia sebagai individu juga merupakan makhluk sosial yang hidup dalam masyarakat.